SebenarnyaSurat Al-Falaq itu Makiyah atau Madaniyah ? Selasa, Desember 8 mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya (At-Tahrim: 1), sampai dengan permulaan ayat yang kesepuluh, juga surat Az-Zalzalah dan An-Nasr. Makalah Aswaja 265 Al-Qur'an 259 Al-Hadits 241 Fiqih Jenazah 233 Kajian Tarikh 229 Fiqih Sosial 226 Ilmu
Di dalam Al Qur’an terdapat 114 surah. Surah-surah tersebut terbagi menjadi dua yaitu Makkiyyah dan Madaniyyah. Pembagian ini terkait dengan tempat dan waktu penurunan surah tersebut. Makkiyyah adalah surah yang diturunkan di Makkah al-Mukarramah atau sebelum Nabi Muhammad hijrah dan Madaniyyah adalah surah yang diturunkan di Madinah Al Munawwarah atau sesudah Nabi Muhammad Hijrah. Perbedaan Surah Makkiyah dan Madaniyyah Perbedaan dari segi konteks kalimat Sebagian besar surat Makkiyah mempunyai cara penyampaian yang keras dalam konteks pembicaraan karena ditujukan kepada orang-orang yang mayoritas adalah pembangkang lagi sombong dan hal tersebut sangat pantas bagi mereka. Bacalah surat Al-Muddatstsir dan Al-Qamar. Sedangkan sebagian besar surat Madaniyyah mempunyai penyampaian lembut dalam konteks pembicaraan karena ditujukan kepada orang-orang yang mayoritas menerima dakwah. Bacalah surat Al-Ma’idah! Sebagian besar surat Makkiyah pendek dan di dalamnya banyak terjadi perdebatan antara para Rasul dengan kaumnya, karena kebanyakan ditujukan kepada orang-orang yang memusuhi dan menentang, sehingga konteks kalimat yang digunakan disesuaikan dengan keadaan mereka. Baca surat Ath-Thur! Adapun surat Madaniyyah kebanyakan panjang dan berisi tentang hukum-hukum tanpa ada perdebatan karena keadaan mereka yang menerima. Baca ayat dain ayat tentang hutang pada surat Al-Baqarah ayat 282. Perbedaan dari segi tema Sebagian besar surat Makkiyah bertemakan pengokohan tauhid dan aqidah yang benar, khususnya berkaitan dengan tauhid uluhiyah dan penetapan iman kepada Hari Kebangkitan karena kebanyakan yang diajak bicara mengingkari hal itu. Sedangkan sebagian besar ayat Madaniyyah berisi perincian ibadah-ibadah dan mu’amalah karena keadaan manusia waktu itu jiwanya telah kokoh dengan tauhid dan aqidah yang benar, sehingga membutuhkan perincian tentang berbagai ibadah dan mu’amalah. Dalam ayat Madaniyyah banyak disebutkan tentang jihad, hukum-hukumnya dan keadaan orang-orang munafiq karena keadaan yang menuntut demikian dimana pada masa tersebut telah disyari’atkan jihad dan mulai bermunculan orang-orang munafiq. Berbeda dengan isi ayat Makkiyah. Faedah Mengetahui Surat Madaniyyah dan Makkiyyah Mengetahui surat Madaniyyah dan Makiyah merupakan salah satu bidang ilmu Al-Qur’an yang penting karena di dalamnya terdapat beberapa manfaat 1- Bukti ketinggian bahasa Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an Allah Azza wa Jalla mengajak bicara setiap kaum sesuai keadaan mereka baik dengan penyampaian yang keras maupun lembut. 2- Tampaknya hikmah pembuatan syari’at ini. Hal tersebut sangat nyata dimana Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur dan bertahap sesuai keadaan umat pada masa itu dan kesiapan mereka di dalam menerima dan melaksanakan syari’at yang diturunkan. 3- Pendidikan terhadap para da’i di jalan Allah Azza wa Jalla dan pengarahan bagi mereka agar mengikuti metode Al-Qur’an dalam tata cara penyampaian dan pemilihan tema yakni memulai dari perkara yang paling penting serta menggunakan kekerasan dan kelembutan sesuai tempatnya. 4- Pembeda antara nasikh hukum yang menghapus dengan mansukh hukum yang dihapus. Seandainya terdapat dua ayat yaitu Madaniyyah dan Makiyah yang keduanya memenuhi syarat -syarat naskh penghapusan maka ayat Madaniyyah tersebut menjadi nasikh bagi ayat Makiyah karena ayat Madaniyyah datang belakangan setelah ayat ini daftar 114 surah dalam Al-Qur’an berdasarkan tempat turunnya; Mekkah dan Madinah.| Ցаνуቪуфե οщևጩу аν | Иμ геհеτոնዠг | Зօኛоշ υրаմуք |
|---|---|---|
| Υ пюւխктиφи | Էс сօсрожечо | ረци жуձըве |
| Псኦρуሸоճ о | Иሏዤл φዮ | Հэтεይул ш |
| Ч ጶβሽхреμуփ лοлоւ | Апаσ աврሞ | Щаժечеш ሡожኘк ተθμθщис |
| Ср у կጏδоλ | За θчጌኽο арамощ | Трመсн խ |
A Asbabul Nuzul Al-Qur’an. Al-quran diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia ke arah tujuan yang terang dan jalan yang lurus dengan menegakkan asas kehidupan yang di dasarkan pada keimanan kepada Allah dan risalahnya. Juga memberitahukan hal yang telah lalu, kejadian-kejadian yang sekarang serta berita-berita yang akan datang.
Apakah kamu sedang belajar bahasa Arab? Pada materi lanjutan ini, kamu akan belajar mengenal sebutan jenis surat atau ayat dalam Al-Quran. Di dalam ajaran Islam, surat atau ayat Al-Quran memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri yaitu Makkiyah dan Madaniyah. Mungkin di tahap ini, kamu masih merasa bingung membedakan bagaimana surat Makkiyah dan Madaniyah di dalam Al-Quran. Nah, artikel Lister kali ini akan membahas mengenai pengertian, ciri-ciri, dan contoh surat yang Makkiyah dan Madaniyah yang perlu kamu tahu! Definisi Makkiyah dan Madaniyah Makkiyah adalah ayat-ayat yang di turunkan di Makah, sedangkan Madaniyah adalah ayat-ayat yang di turunkan di Madinah. Dalam pengertian lain, Makkiyah merupakan ayat atau surat yang di turunkan sebelum Nabi hijrah, sedangkan Madaniyah adalah ayat atau surat yang di turunkan setelah Nabi hijrah. Ciri-Ciri Makkiyah dan Madaniyah Melansir dari laman begini karakteristik dari surat Makkiyah dan Madaniyah dari Ahmad Fuad Effendy dalam bukunya berjudul, Sudahkah Kita Mengenal al-Quran? Ciri-ciri surat dengan sebutan Makiyyah memiliki karakteristik sebagai berikut Ayat yang jika dibaca, maka disunnahkan kepada pembaca dan pendengarnya untuk melakukan sujud ayat SajdahKata kallaa disebut 33 kaliFrasa yaa ayyuha an-naas dan sebaliknya, tidak ada yaa ayyuha alladziina aamanu kecuali surah al-HajKisah nabi-nabi dan umat-umat terdahulu kecuali surah al-BaqarahKisah Nabi Adam AS dan Iblis kecuali surah al-BaqarahPembukaan surah berupa huruf-huruf lepas, seperti qaf, shad, alif-lam-mim-ra, alif-lam-mim kecuali surah al-Baqarah dan surah Ali ImranAyat dan surahnya pendek-pendekUngkapannya keras, cenderung puitis, menyentuh hatiBanyak terdapat kesamaan bunyiBanyak menggunakan huruf qasam sumpahBanyak kecaman kepada kaum musyrikPenekanan pada dasar-dasar keimanan kepada Allah dan Hari Akhir, serta penggambaran surga dan nerakaBanyak tuntunan mengenai akhlaq al-karimah akhlak yang baik Adapun ciri-ciri surat madaniyah adalah sebagai berikut ini Izin untuk perang dan hukum-hukumnyaRincian hukum tentang hudud, ibadah, undang-undang sipil, sosial, dan hubungan antar-negaraPenyebutan tentang kaum munafik kecuali surah al-AnkabutPenyebutan tentang ahli kitabAyat dan surahnya tenang, cenderung prosais, yang ditujunya adalah akal pikiranBanyak mengemukakan bukti dan argumentasi mengenai kebenaran-kebenaran agama. Contoh Ayat/Surat Makkiyah dan Madaniyah Jika kamu masih bingung membedakan jenis-jenis surat Makkiyah dan Madaniyah, di bawah ini adalah ayat dan surat dalam Al-Quran yang memiliki karakteristik makkiyah dan madaniyah. Ayat Makiyyah Metode penyampaian pada mayoritas ayat-ayat makkiyyah itu tegas, dan seruannya juga kuat, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat makkiyyah ini adalah tipe orang-orang yang berpaling dari kebenaran dan sombong, maka tentunya tidak layak bagi mereka melainkan dengan metode penyampaian dan seruannya yang kuat. Contoh QS AL-QAMAR Ayat Madaniyah Sedangkan ayat-ayat madaniyyah, maka kebanyakan metode penyampaian di dalam ayat-ayat tersebut adalah lembut dan seruannya mudah, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat madaniyyah adalah tipe orang-orang yang tunduk dan menerima kebenaran. Silakan baca surat Al-Maidah. Contoh QS AL MAIDAH Azbabunnuzul mempunyai arti penting dalam menafsirkan al-Qur’an. seseorang tidak akan mencapai pemahaman yang baik jika tidak baik jika tidak memahami riwayat azbabun nuzul suatu riwayat. Al wahidi (w.468/175),seorang ulama’ klasik dalam bidang ini mngemukakan bahwa pengetahuan tentang tafsir dan ayat – ayat tidak mungkin, jika tidak MAKALAH MAKKIYAH DAN MADANIYAH Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ulumul Qur’an Dosen Pengampu Shobirin Oleh Kelas / Semester B / II Awaliyatu Khoirunnisa’ 1420210056 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS JURUSAN SYARI’AH DAN EKONOMI ISLAM/ PRODI EKONOMI SYARIAH 2015 BAB I PENDAHULUAN Semua bangsa berusaha keras untuk melestarikan warisan pemikiran dan nilai-nilai kebudayaannya. Tak terkecuali umat islam, mereka sangat memperhatikan kelestarian risalah Muhammad yang memuliakan semua umat manusia. Itu disebabkan risalah Muhammad bukan sekedar risalah ilmu dan pembaharuan yang hanya mendapat perhatian sepanjang akal menerimanya. Tetapi, di atas itu semua, ia merupakan agama yang melekat pada akal dan terpatri dalam hati. Orang yang membaca Al-Qr’an Al-Karim akan melihat bahwa ayat-ayat makkiyah mengandung karakteristik yang tidak ada dalam ayat-ayat madaniyyah, baik dalam irama maupun maknanya begitupun sebaliknya; sekalipun yang kedua ini didasarkan pada yang pertama dalam hukum-hukum dan perundang-undangannya. Abdul Qasim Al-Hasan bin Muhammad bin Habib An-Naisaburi menyebutkan dalam kitabnya At-Tanbih Ala Fadhli Ulum Al-Qur’an “Di antara ilmu-ilmu Al-Qur’an yang paling utama adalah ilmu tentang nuzulul Al-Qur’an dan wilayahnya, urutan turunnya di makkah dan madinah, tentang hukumnya yang diturunkan di makkah tetapi mengandung hukum madani dan sebaliknya, serupa dengan yang diturunkan di makkah, tetapi pada dasarnya termasuk madani dan sebaliknya. Juga tentang yang diturunkan di Juhfah, Baitul Maqdis, Tha’if atau Hudaibiyah. Demikian juga tentang yang diturunkan di waktu maalm, di waktu siang, diturunkan secara bersama-sama. Atau ayat–ayat Madaniyyah dalam surat-surat Makkiyyah dan sebaliknya. Itu semua adaa 25 macam. Orang yang tidak mengetahuinya dan tidak dapat membeda-bedakannya, ia tidak berhak berbicara tentang Al-Qur’an. ” Bagitu pentingnya arti pengelompokan yang diutarakan Al-Qosim tentang permasalahan tentang ilmu Al-Qur’an yang terdapat dalam bukunya yang berjudul Dirasah fi ulum Al-Qur’an. Pada umumnya, para pakar ulum Al-Qur’an membahas permasalahan ini dalam suatu maudhu’ yang lazim disebut makkiyyah dan madaniyyah. Bila tidak menguasainya, banyak faedah yang tidak dapat dipetik, dan yang hendak mengetahui Al-Qur’an tanpa memahami ayat-ayat makkiyah dan apa itu ayat-ayat madaniyyah, bisa-bisa terjebak ke dalam kesalahan yang fatal. 1. Apa Pengertian Makkiyah dan Madaniyah ? 2. Bagaimana Sejarah Perkembangan Makkiyah dan Madaniyah ? 3. Bagaimana Perkembangan Makkiyah dan Madaniyah ? 4. Sebutkan Beberapa Contoh dari Ayat Makkiyah dan Madaniyah ? 5. Apa Fungsi Memahami Ilmu Makkiyah dan Madaniyah ? 6. Apa Saja Ayat yang Diturunkan di Luar Kota Makah dan Madinah? BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Makkiyah dan Madaniyah Para sarjana muslim mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminologi makkiyah dan madaniyah. Keempat perspektif itu adalah 1. Masa turun zaman an-nuzul 2. Tempat turun makan an-nuzul 3. Objek pembicaraan mukhathab 4. Tema pemmbicaraan maudu’ 1. Dari perspektif masa turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut اَلْمَكِيُ مَا نَزَلَ قَبْلَ اْلهِجْرَةِ وَاِنْ كَانَ بِغَيْرِ مَكَةَ. وَ المدَنِيُ مَا نَزَلَ بَعْدَ الِهجْرَةِ وَاِنْ كَانَ بِغَيْرِ مَدِيْنَةَ. فَمَا نَزَلَ بَعْدَ الهِجْرَةِ وَلَوْ بِمَكَةَ أَوْ عَرَفَةَ مَدَنِيُ. Artinya “Makkiyyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum rasulullah hijrah ke madinah, kendatipun bukan turun di mekah, sedangkan madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun sesudah rasulullah hijrah ke madinah, kendatipun bukan turun di madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut madaniyyah walaupun turun di mekah atau di arafah.” Dengan demikian, surat an-nisa’ [4] 58 termasuk kategori madaniyyah kendatipun diturunkan di mekah, yaitu pada peristiwa terbukanya kota mekah fath makkah. Begitu pula, surat al-maidah [5] 3 termasuk kategori madaniyyah kendatipun tidak diturunkan di madinah karena ayat itu diturunkan pada peristiwa haji wada’. 2. Dari perspektif tempat turun, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut مَا نَزَلَ بِمَكَةَ وَمَا جَا وَرَهَا كَمِنَى وَ عَرَفَةَ وَحُدَيْبِيَةَ. وَالمدَنِيُ مَا نَزَلَ بِالمدِيْنَةِ وَمَا جَا وَرَهَا كَأُحُدٍ وَقُبَاءَ وَسُلْعَ. Artinya “Makkiyah adalah ayat-ayat yang turun di mekah dan sekitarnya seperti mina, arafah, dan hudaibiyyah, sedangkan madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun di madinah dan sekitarnya, seperti Uhud, Quba’ dan Sul’a” Terdapat celah kelemahan dari pendefnisian di atas sebab terdapat ayat-ayat tertentu, yang tidak di turunkan di Makkah dan di Madinah dan sekitarnya. Misalnya surat At-Taubah [9] 42 diturunkan di Tabuk, surat Az-Zukhruf [43] 45 diturunkan di tengah perjalanan antara Makkah dan Madinah. Kedua ayat tersebut, jika melihat definisi kedua, tidak dapat dikategorikan ke dalam Makkiyyah dan Madaniyyah. 3. Dari objek pembicaraan, mereka mendefinisikan kedua terminologi di atas sebagai berikut اَلْمَكِيُ مَاكَانَ خِطَابًا لِأَهْلِ مَكَةَ . وَالمدَنِيُ مَاكَانَ خِطَابًا لِأَهْلِ المدِيْنَةِ. Artinya “Makkiyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-orang Makkah. Sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang menjadi khitab bagi orang-orang Madinah” Pendefinisian diatas dirumuskan para sarjana muslim berdasarkan asumsi bahwa kebanyakan ayat al-qur’an dimulai dengan ungkapan “ya ayyuhan naas” yang menjadi kriteria Makkiyah, dan ungkapan “ya ayyuha al-ladziina” yang menjadi kriteria Madaniyyah. Namun, tidak selamanya asumsi ini benar. Surat Al-Baqarah [2], misalnya, termasuk kategori Madaniyyah, padahal di dalamnya terdapat salah satu ayat, yaitu ayat 21 dan ayat 168, yang dimulai dengan ungkapan “ya ayyuhan naas”. Lagi pula, banyak ayat al-quran yang tidak dimulai dengan 2 ungkapan di atas. 4. Dari tema pembicaraan, mereka akan mendefinisikan kedua terminologi lebih terinci. Kendatipun mengunggulkan pendefinisian Makkiyyah dan Madaniyyah dari perspektif masa turun, subhi shahih melihat komponen-komponen serupa dalam tiga pendefinisian. Pada ketiga versi itu terkandung komponen masa tempat dan orang. Bukti lebih lanjut dari tesis shahih di atas bisa dilihat dalam kasus surat Al-Mumtahanah [60]. Bila dilihat dari perspektif tempat turun, surat ini termasuk Madaniyyah karena diturunkan sesudah peristiwa hijrah. Akan tetapi, dalam perspektif objek pembicaraan, surat itu termasuk Makkiyah karena menjadi khitab bagi orang-orang mekah. Oleh karena itu, para sarjana muslim memasukkan surat itu kedalam “ma nuzila bi al Madinah wa hukmuhu Makki ” ayat-ayat yang di turunkan di Madinah, sedangkan hukumnya termasuk ayat-ayat yang diturunkan di Mekah. [1] Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa Makkiyyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah SWT sebelum hijrah ke Madinah, walaupun ayat tersebut turun di sekitar / bukan di kota Makkah, yang pembicaraannya lebih ditujukan untuk penduduk Makkah. Sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Madinah dan sekitarnya walaupun turunnya di Makkah, dan pembicaraannya lebih ditujukan untuk penduduk Madinah. B. Sejarah Perkembangan Maakkiyah dan Madaniyyah Dikalangan ulama terdapat beberapa pendapat tentang dasar atau kriteria yang dipakai untuk menentukan Makkiyyah dan Madaniyyah suatu surat atau ayat. Sebagian ulama menetapkan lokasi turunnya ayat-ayat atau surat sebagai dasar penentuan Makkiyyah dan Madaniyyah, sehingga mereka membuat definisi Makkiyyah dan Madaniyyah sebagai berikut Yang diartikan sebagi berikut “Makiyah ialah yang diturunkan dimakkah sekalipun turunnya sesudah hijrah, madaniyah ialah yang diturunkan di madinah” Agak sulit memang melacak dan mengidentifikasi secara pasti ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah karena urutan tata tertib ayat tidak mengikuti kronologi waktu turunnya ayat tetapi berdasarkan petunjuk nabi. Lagi pula pada mushaf usmani yang menjadi acuan sejak semula disusun mengikuti petunjuk nabi. Koleksi mushaf para sahabat yang diantaranya ada yang ditulis berdasarkan turunnya ayat, semuanya sudah dibakar setelah tim penyusun al-Quran yang dibentuk Usman bin Affan menyelesaikan tugasnya. Jadi pembakaran mushaf tersebut bisa juga berarti sebagai kerugian intelektual, karena dengan demikian menjadi sulit melacak kronologi ayat berdasarkan waktu turunnya. [2] C. Perbedaan Makkiyah dan Madaniyyah 1. Ciri-ciri khusus surat makkiyah a. Mengandung ayat sajdah Al-A’raf 206, A-Nahl 149, An-Nahl 50, Al-Isra’ 107, Al-Isra’ 108, Al-isra’ 109, Maryam 85, Al-Furqan 60. b. Terdapat lafal kalla sebagian besar ayatnya Al-Humazah 4 كلا لينبذن فى الحطمة c. Terdapat seruan dengan ya ayyuhannasu contonhya dalam surat Yunus 57, يايهاالناس قدجاءتكم موعظة من ربكم وشفاءلما فى الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين d. Mengandung kisah nabi-nabi dan umat-umat yang telah lalu, kecuali surat Al-Baqarah surat Al-A’raaf kisah Nabi Adam dengan iblis, kisah Nabi Nuh dan kaumnya, kisah Nabi Shalih dan kaumnya, kisah Nabi Syu’aib dan kaumnya, kisah Nabi Musa dan Firaun. e. Terdapat kisah adam dan iblis.[3] Contohnya dalam surat Al-A’raf 11 yang artinya “sesungguhnya kami telah menciptakan kamu adam, lalu kami bentuk tubuhmu, kemudian kami katakana kepada malaikat bersujudlah kamu kepada adam. Maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.” f. Setiap suratnya terdapat Sujud Tilawah, sebagian ayat-ayatnya. g. Semua atau sebagian suratnya diawali huruf tahajji seperti Qaf ق , Nun ن , Kha Mim حم contonya ص dalam surat Shaad 1 h. Ayat-ayatnya dimulai dengan huruf terpotong-potong al-ahraf al-muqatha’ah atau fawaatihussuwar, seperti “الم surat Ar-Rum 1, الر surat Hud 1,هم “, kecuali Al-Baqoroh dan Ali Imron.[4] 2. Ciri-ciri surat makkiyah yang aghlaniyah umum a. Ayat-ayatnya pendek, surat-suratnya pendek An-Nass 6 ayat, Al-Ikhlas 4 ayat, Al-Falaq 5 ayat, Al-Lahab 5 ayat, nada perkataannya keras dan agak bersajak surat Al-Ashr. والعصر. ان الانسن لفى خسر. الا الذين ءامنوا وعملواالصلحت وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر. b. Mengandung seruan pokok-pokok iman kepada Allah, hari akhir dan menggambarkan keadaan surga dan neraka. c. Menyeru manusia berperagai mulia dan berjalan lempang di atas jalan kebajikan An-Nahl, = akhlak-akhlak baik d. Mendebat orang-orang musyrik dan menerangkan kesalahan-kesalahan pendirian mereka surat Al-Kahfi ayat 102-108 e. Banyak terdapat lafadz sumpah.[5] surat Al-Anbiyaa’ 57 وتا الله لاكيدن اصتمكم بعد ان تولوا مدبرين 3. Ciri-ciri khusus surat madaniyyah a. Di dalamnya ada izin berperang atau ada penerangan tentang hal perang dan penjelasan tentang hukum-hukumnya. QS. Al-Ahzab = tentang perang ahzab / khandaq. b. Di dalamnya terdapat penjelasan bagi hukuman-hukuman tindak pidana, fara’id, hak-hak perdata, peraturan-peraturan yang bersangkut paut dengan bidang keperdataan, kemasyarakatan dan kenegaraan. QS. An-Nur = tentang hukum-hukum sekitar masalah zina, li’an, adab-adab pergaulan di luar dan di dalam rumah tangga. QS. Al-Ahzab = tentang hukum zihar, faraid c. Di dalamnya tersebut tentang orang-orang munafik surat An-Nur ayat 47-53 tentang perbedaan sikap orang-orang munafik dengan sikap orang-orang muslim dalam bertakhim kepada Rasul d. Di dalamnya didebat para ahli kitab dan mereka diajak tidak berlebih-lebihan dalam beragama, seperti terdapat dalam surat Al-Baqarah, An-Nisa’, Ali Imran, At-Taubah dan lain-lain.[6] 4. Ciri-ciri surat madaniyyah yang aghlaniyah umum a. Suratnya panjang-panjang, sebagian ayatnya pun panjang serta jelas menerangkan hukum QS. Al-Baqarah surat dan ayatnya panjang, dan didalamnya terdapat hukum haji dan umrah, hukum qishas, hukum merubah kitab-kitab Allah, hukum haid, iddah, hukum bersumpah, hukum arak dan judi b. Menjelaskan keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang menunjukkan kepada hakikat-hakikat keagamaan. D. Beberapa Contoh Ayat Makkiyah dan Madaniyah Diantaranya 1 Al-Alaq 47 An-Naml 2 Al-Qolam 48 Al-Qoshash 3 Al-Muzzammil 49 Al-Isro’ 4 Al-Muddatstsir 50 Yunus 5 Al-Fatihah 51 Hud 6 Al-Lahab 52 Yusuf 7 At-Takwir 53 Al-Hir 8 Al-A’la 54 Al-An’am 9 Al-Lail 55 Ash-Shaffat 10 Al-Fajr 56 Luqman 11 Ad-Dhuha 57 Saba’ 12 Al-Insyiroh 58 Az-Zumar 13 Al-Ashr 59 Ghofir 14 Al-Adiyat 60 Fushshilat 15 Al-Kautsar 61 Asy-Syura 16 At-takatsur 62 Az-Zukhruf 17 Al-Ma’un 63 Ad-Dukhan 18 Al-Kafirun 64 Al-Jatsiah 19 Al-Fiil 65 Al-Ahqof 20 Al-Falaq 66 Al-Adzariyat 21 An-Nas 67 Al-Ghosiyah 22 Al-Ikhlas 68 Al-Kahfi 23 An-Najm 69 An-Nahl 24 Abasa 70 Nuh 25 Al-Qodar 71 Ibrahim 26 Asy-Syams 72 Al-Anbiya’ 27 Al-Buruj 73 Al-Mu’minun 28 At-Tiin 74 As-Sajadah 29 Al-Quroisy 75 At-Thur 30 Al-Qori’ah 76 Al-Mulk 31 Al-Qiyamah 77 Al-Haqqoh 32 Al-Humazah 78 Al-Ma’arij 33 Al-Mursalat 79 An-Naba’ 34 Qaf 80 An-Nazi’at 35 At-Thoriq 81 Al-Balad 36 Al-Qomar 82 Al-Infithor 37 Shad 83 Al-Insyiqoq 38 Al-A’rof 84 Ar-Rum 39 Jinn 85 Al-Ankabut 40 Yasin 86 Al-Muthoffifin 41 Al-Furqon 87 Al-Zalzalah 42 Fathir 88 Ar-Rod 43 Maryam 89 Ar-Rohman 44 Thoha 90 Al-Insan 45 Al-Waqiah 91 Al-Bayyinah 46 Asy-Syu’ara Diantaranya 1 Al-Baqoroh 13 Ali-Imron 2 Al-Anfal 14 Al-Ahzab 3 Al-Mumtahanah 15 Al-Hujurat 4 An-Nisa’ 16 At-Tahrim 5 Al-Hadid 17 At-Taghabun 6 Al-Qital 18 As-Shaf 7 At-Tholaq 19 Al-Jumuah 8 Al-Hasr 20 Al-Fath 9 An-Nur 21 Al-Maidah 10 Al-Hajj 22 At-Taubah 11 Al-Munafiqun 23 An-Nashr 12 Al-Mujadilah E. Fungsi Memahami Ilmu Makkiyah dan Madaniyah An-Naisaburi dalam kitabnya At-Tanbih ala Fadhl Ulum Al-Quran, memandang subjek makkiyah dan madaniyyah sebagai ilmu Al-Quran yang paling utama. Sementara itu , Manna’ Al-Qaththan mencoba lebih jauh lagi dalam mendeskripsikan urgensi mengetahui makkiyah dan madaniyyah sebagai berikut. 1. Membantu dalam menafsirkan Al-qur’an Pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa di seputar turunnya Al-Qur’an tentu sangat membantu dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, kendatipun ada teori yang mengatakan bahwa yang harus menjadi patokan adalah keumuman redaksi ayat dan bukan kehususan sebabin. Dengan mengetahui kronologis Al-Quran pula, seorang mufassir dapat memecahkan makna kontradiktif dalam dua ayat yang berbeda, yaitu dengan pemecahan konsep nasikh-mansukh yang hanya bisa diketahui melalui kronologi Al-Quran. 2. Pedoman bagi langkah-langkah dakwah Setiap kondisi tentu saja memerlukan ungkapan-ungkapan yang relevan. Ungkapan-ungkapan dan intonasi berbeda yang digunakan ayat-ayat makkiyah dan ayat-ayat madaniyyah memberikan informasi metodologi bagi cara-cara menyampaikan dakwah agar relevan dengan orang yang diserunya. Oleh karena itu, dakwah Islam berhasil mengetuk hati dan menyembuhkan segala penyakit rohani orang-orang yang diserunya. Di samping itu, setiap langkah-langkah dakwah memiliki objek kajian dan metode-metode tertentu, seiring dengan perbedaan kondisi sosio-kultural manusia. Periodisasi makkiyah dan madaniyyah telah memberikan contoh untuk itu. 3. Memberi informasi tentang sirah kenabian Penahapan turunnya wahyu seiring dengan perjalanan dakwah nabi, baik di mekah atau di madinah, dimulai sejak diturunkannya wahyu pertama sampai diturunkannya wahyu terakhir. Al-Quran adalah rujukan otentik bagi perjalanan dakwah nabi itu. Informasinya tidak bisa diragukan lagi. Mengetahui sejarah hidup nabi melalui ayat-ayat Al-Quran, sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah sejalan dengan sejarah dakwah dan segala peristiwa yang menyertainya, baik pada periode makkah maupun periode madinah, sejak turun iqra’ sampai ayat yang terakhir diturunkan. Al-Quran adalah sumber pokok bagi hidup Rasulullah. Pola hidup beliau harus sesuai dengan Al-Quran dan Al-Quran pun memberikan kata putus terhadap perbedaan riwayat yang mereka riwayatkan. [9] Selain itu juga pengetahuan tentang makkiyah dan madaniyah banyak membawa hikmah dan faedah serta kagunaan yang bermacam-macam, antara lain sebagai berikut 1. Mudah diketahui mana ayat-ayat yang turun lebih dahulu dan mana ayat yang turun belakangan dari kitab suci Al-Quran 2. Mudah diketahui mana ayat-ayat Al-Quran yang hukum bacaannya telah dinaskh dihapus dan diganti dan mana ayat-ayat yang menasakhkannya, khususnya bila ada dua ayat yang menerangkan hukum sesuatu masalah, tetapi ketetapan hukumnya bertentangan yang satu dari yang lain. 3. Mengetahui dan mengerti sejarah pensyariatan hukum-hukum Islam Taarikhut Tasyri’ yang amat bijaksana dalam menetapkan peraturan-peraturan. 4. Mengetahui hikmah disyariatkannya suatu hukum. 5. Mengetahui perbedaan dan tahap-tahap dakwah Islamiah. 6. Mengetahui perbedaan ushlub-ushlub bentuk-bentuk bahasa Al-Quran yang dalam surat-surat makkiyah berbeda dengan yang ada dalam surat madaniyah.[10] F. Ayat-ayat Al-qur’an Diturunkan Di Luar Kota Makkah dan Madinah 1. Ayat yang di bawa dari makkah ke madinah Contohnya ialah surat Al-A’la. HR. Al-Bukhari dari Al-Bara’ bin Azib yang mengatakan, “orang yang pertama kali datang kepada kami di kalangan sahabat Nabi adalah Mush’ab bin Umair dan Ibnu Ummi Maktum keduanya membacakan Al-Quran kepada kami. Sesudah itu datanglah Ammar, Bilal dan Sa’ad. Kemudian datang pula Umar Bin Khattab sebagai orang yang kedua puluh. Baru setelah itu datanglah Nabi. Aku melihat penduduk Madinah bergembira setelah aku membaca sabbihismarabbikal a’la dari antara surat yang semisal dengannya.” Pengertian ini cocok dengan Al-quran yang dibawa oleh golongan muhajirin, lalu mereka ajarkan kepada kaum anshar. 2. Ayat yang di bawa dari madinah ke makkah Contohnya dari awal surat Baqarah, yaitu ketika Rasulullah SAW memerintahkan kepada Abu Bakar untuk pergi haji pada tahun ke Sembilan. Ketika awal surat Baqarah turun, Rasulullah memerintahkan kepada Ali bin Abi Thalib untuk membawa surat tersebut kepada Abu Bakar, agar ia sampaikan kepada kaum musyrikin, maka Abu Bakar pun membacakannya kepada mereka dan mengumumkan bahwa tahun ini tidak ada oseorang musyrik pun yang boleh berhaji. 3. Ayat yang turun di waktu dalam perjalanan Mayoritas ayat-ayat dan surat-surat Al-Quran turun pada saat Nabi dalam keadaan menetap. Akan tetapi, karena kehidupan Rasulullah tidak pernah lepas dari jihad dan peperangan di jalan Allah, maka wahyu pun turun juga dalam perjalanan tersebut. Imam As-Suyuthi menyebutkan awal surat Al-Anfal yang turun di Badar setelah selesai perang, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Sa’ad bin Abi Waqqash. Sedangkan ayatnya adalah sebagai berikut والذين يكنزون الذهب والفضة ولا ينفقونها فى سبيل الله Diriwayatkan Ahmad dari Tsauban, bahwa ayat tersebut turun ketika Rasulullah dalam salah satu perjalanan. Juga awal surat Al-Hajj. At-Tirmidzi dan Al-Haakim meriwayatkan dari Imran bin Hushain yang menyatakan “ketika turun kepada Nabi ayat wahai manusia, bertakwalah kepada tuhanmu, sesungguhnya goncangan Hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar … sampai dengan .. tetapi adzab Allah sangat kerasnya’ beliau sedang berada dalam perjalanan.” Begitu juga surat Al-Fath. Al-Hakim dan yang lain meriwayatkan, dari Al-Miswar bin Makhramah dan Marwan bin Al-Hakam, keduanya berkata “surat Al-Fath dari awal sampai akhir turun di antara kota makkah dan madinah berkaitan dengan masalah perdamaian Hudaibiyah.” Sebagian dari ayat Al-Quran tidak hanya turun di kota makkah dan sekitarnya dan tidak pula di madinah dan sekitarnya, seperti firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 42 dan pada surat Az-Zukhruf ayat 45. Yang kedua ayat tersebut tidak turun di kota makkah dan sekitarnya dan tidak pula di kota madinah dan sekitarnya. Menurut Ibnu Katsir bahwa surat At-Taubah ayat 42 turun di tabuk, dan surat Az-Zukhruf ayat 45 diturunkan di abitul maqdis pada malam Isra’.[11] 4. Ayat yang turun di Kota Arofah pada haji wada’[12] Surat Al-Baqarah ayat 281 وَاتَقُوا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللهِ ثُم تُوَفى َكُلُ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ “Dan peliharalah dirimu dari azab yang terjadi pada hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi Balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya dirugikan.”[13] 5. Ayat yang turun di Kota Mina pada haji wada’ Surat Al-Maidah ayat 3[14] حرمت عليكم الميتة والدم و لحم الخنزير وما أهل لغير الله به والمنخنقة والموقوذة والمتردية والنطيحة وما أ كل السبع إلاماذكيتم وماذبح على النصب وأن تستقسموا بالأزلم ذالكم فسق اليوم يئس الذين كفروا من دينكم فلا تخشوهم واشون اليم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتى ورضيت لكم الإسلم دينا فمن اضطر فى مخمصة غير متجانف لإثم فإن الله غفوررحيم “Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan diharamkan bagimu yang disembelih untuk berhala. dan diharamkan juga mengundi nasib dengan anak panah, mengundi nasib dengan anak panah itu adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk mengalahkan agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[15] BAB III SIMPULAN Makkiyyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah SWT sebelum hijrah ke Madinah, walaupun ayat tersebut turun di sekitar / bukan di kota Makkah, yang pembicaraannya lebih ditujukan untuk penduduk Makkah. Sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Madinah dan sekitarnya walaupun turunnya di Makkah, dan pembicaraannya lebih ditujukan untuk penduduk Madinah. Agak sulit memang melacak dan mengidentifikasi secara pasti ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah karena urutan tata tertib ayat tidak mengikuti kronologi waktu turunnya ayat tetapi berdasarkan petunjuk nabi. Lagi pula pada mushaf usmani yang menjadi acuan sejak semula disusun mengikuti petunjuk nabi. Koleksi mushaf para sahabat yang diantaranya ada yang ditulis berdasarkan turunnya ayat, semuanya sudah dibakar setelah tim penyusun al-Quran yang dibentuk Usman bin Affan menyelesaikan tugasnya. Jadi pembakaran mushaf tersebut bisa juga berarti sebagai kerugian intelektual, karena dengan demikian menjadi sulit melacak kronologi ayat berdasarkan waktu turunnya. Sedangkan untuk membedakan antara ayat makkiyah dan ayat madaniyah terdapat Ciri-ciri khusus surat makkiyah, Ciri-ciri surat makkiyah yang aghlaniyah umum, Ciri-ciri khusus surat madaniyyah, Ciri-ciri surat madaniyyah yang aghlaniyah umum. Begitupun juga dengan contoh suratnya, diantaranya surat Makkiyah Al-Alaq, At-Tin, Al-Balad, Al-Qoriah, Al-Adiyat, dan lain sebagainya, sedangkan surat Madaniyah An-Nash, Al-Baqoroh, Al-Anfal, Ali-Imron, dan lain sebagainya. Manna’ Al-Qaththan mencoba lebih jauh lagi dalam mendeskripsikan urgensi mengetahui makkiyah dan madaniyyah adalah untun Membantu dalam menafsirkan Al-qur’an, Pedoman bagi langkah-langkah dakwah, Memberi informasi tentang sirah kenabian, Mudah diketahui mana ayat-ayat yang turun lebih dahulu dan mana ayat yang turun belakangan dari kitab suci Al-Quran dan Mudah diketahui mana ayat-ayat Al-Quran yang hukum bacaannya telah dinaskh dihapus dan diganti dan mana ayat-ayat yang menasakhkannya, khususnya bila ada dua ayat yang menerangkan hukum sesuatu masalah, tetapi ketetapan hukumnya bertentangan yang satu dari yang lain. Adapun ayat-ayat yang turun tidak di kota makkah dan tidak pula di kota madinah adalah Ayat yang di bawa dari makkah ke madinah, ayat yang di bawa dari madinah ke makkah, Ayat yang turun di waktu dalam perjalanan, Ayat yang turun di Kota Arofah pada haji wada’, Ayat yang turun di Kota Mina pada haji wada’. Alhamdulillah, penulisan makalah ini terselesaikan dan tersusun secara sistematik. Tetapi penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, karena mengingat keterbatasan pengetahuan dari penulis. Maka dari itu penulis mohon kritik dan saran dari berbagai pihak. DAFTAR PUSTAKA Abdullah bin Abdul Aziz Ali Sa’ud, Al Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, Yayasan Penyelenggara Penerjemah Pentafsir Al Qur’an. Al-Qaththan, Syeikh Manna, Pengantar Studi Ilmu Al-Quran, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2006. Anwar Rosihon, Ulum al-Qur’an, Bandung, Pustaka Setia, 2008. Hasbi ash-Shiddieqy, Tengku Muhammad,Ilmu-Ilmu Ulumul Quran, Semarang, Pustaka Rizki Putra, 2009. Shihab, Quraish, Sejarah & Ulum Al-Quran, Bandung, Pustaka Firdaus, 1997. Rakhmat, Jalaluddin, Ulum Al-Quran, Bandung, 1431 H. http// pada tanggal 05-04-2015 pada pukul 1830. [1] Rosihon Anwar, Ulum al-Qur’an, bandung, Pustaka Setia, 2008, hal102-104. [2] Quraish Shihab, Sejarah & Ulum Al-Quran, bandung, Pustaka Firdaus, 1997, hal 64. [3]Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Ulumul Quran, Semarang, Pustaka Rizki Putra, 2009, hal 72. [4] Jalaluddin Rakhmat. Ulum Al-Quran, Bandung 1431 H, hal 49. [7] Quraish Shihab, Sejarah & Ulum Al-Quran, Bandung, Pustaka Firdaus, 1997, hal 65-67 [9] Rosihon Anwar, Ulum al-Qur’an, bandung, Pustaka Setia, 2008, hal 115-116 [10] http// Diakses pada tanggal 05-04-2015 pada pukul 1830 [11] Syeikh Manna Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Quran, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2006, hlm 67-71. [12] Jalaluddin Rakhmat. Ulum Al-Quran, Bandung 1431 H, hal. 58 [13] Abdullah bin Abdul Aziz Ali Sa’ud, Al Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, Yayasan Penyelenggara Penerjemah Pentafsir Al Qur’an, 1971, hal 70 [14] Jalaluddin Rakhmat, Op Cit, hal. 59. [15] Abdullah bin Abdul Aziz Ali Sa’ud, Op Cit, hal 157 Paraulama tersebut ada yang membedakan ayat-ayat dan surat-surat Makkiyah dan Madaniyah dalam al-Qur’an. Ada juga yang menjadikan khihtab (sasaran pembicaraan) yang ada di dalam ayat sebagai dasar untuk membedakan keduanya. Dan ada juga yang ber-sandar kepada hijrah rosul SAW. Sebagai dasar pembedanya pendapat - pendapat tersebut antara lain Makalah Makkiyah dan Madaniyah Studi Al-QuranMakalah Makkiyah dan Madaniyah Studi Al-Quransayyidah aliyahRezky Maulana AkbarOleh Nur Hamidah G94217196 Rezky Maulana Akbar G94217201 Sayyidah Aliyah G94217206 Dosen Pembimbing Mochammad Andre Agustianto, Lc, MH. FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM JURUSAN EKONOMI SYARIAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2017/2018AlQur'an seperti diyakini kaum muslim merupakan kitab hidayah, petunjuk bagi manusia dalam membedakan yang haq dengan yang batil.Dalam berbagai versinya Al-Qur'an sendiri menegaskan beberapa sifat dan ciri yang melekat dalam dirinya, di antaranya bersifat transformatif.Yaitu membawa misi perubahan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan, Zhulumât
a Al-qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara terpisah dalam kurun waktu yang tak sebentar yaitu kurang lebih 23 tahun lamanya.Dan al-Qur’an diturunkan didua daerah yaitu di Makkah dan di Madinah, maka dari itu ayat-ayat tersebut dinamakan ayat Makkiyah dan ayat Madaniyah.Oleh karena itu dalam makalah ini penulis akan memaparkanMacammacam surah-surah Al-Qur’an terdiri dari emapat macam, yaitu: A. Surah-Surah Makkiyah Murni Yaitu surah-surah yang bersetatus makiyah saja, tidak ada satupun yang madaniyah, contohnya : Al-alaq, Al-Mudatssir, Al-Qiyamah dsb. B. Surah-Surah madaniyah murni Yaitu surah-surah yang bersetatus madaniyah saja, tidak ada satupun yang makiyah MakalahMakiyah Madaniyah Admin. Selasa, 01 Maret 2022 pendidikan
Makkiyah adalah ayat/surat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah, sekalipun turunya di luar Mekah Sedangkan Madaniyah adalah surat atau ayat yang di turunkan sesudah Nabi hijrah, meskipun turunnya di Mekah”.[2] Definisi terakhir inilah yang termasyhur (popular), karena mengandung pembagian Makkiyah dan Madaniyah secara tepat.AsbabunNuzul Surat Al Falaq. Surat Al Falaq terdiri dari lima ayat. Kata Al Falaq yang berarti “yang terbelah” diambil dari ayat pertama. Ia disebut pula surat Qul a’udzu birabbil falaq. Bersama surat An Nas, keduanya disebut al mu’awwidzatain. Yakni dua surat yang menuntun pembacanya menuju tempat perlindungan. Ciriciri spesifik makiyah dan madaniyah 1. Makiyah a. Di dalamnya terdapat sajadah b. Ayat-ayatnya dimulai dengan kalla c. Dimulai dengan ya-ayuha an-nas d. Ayatnya mengandung tema kisah para nabi dan umat- umat terdahulu e. Ayatnya berbicara tentang kisah nabi Adam dan Idris kecuali surat al-baqoroh f. Makadimulailah penghimpunan tersebut pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash-Sidiq, atas prakasa dan usulan Umar Bin Khattab. Sebenarnya sejak masa Rasulullah saw. Al-Qur'an sudah ditulis secara keseluruhan, tetapi belum dihimpun di satu tempat dan belum ditertibkan nomor urut surat-suratnya dan dimana surat itu diturunkan. 1. xlyDw5.